Rabu, 12 Maret 2014

kau tak akan terganti

meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
semua takkan mampu mengubahku hanyalah kauuu yang ada di hatiku....

Sekali INI Saja



“Terus aja bimbingan, kenapa belum selesai juga neng?”aduh pertanyaan itu menyakitkanku. Pertanyaan ibu dikota hujan sana menyayat hati dan perasaanku, haruskah aku bertekuk lutut dihadapan kedua orang tuaku?  Apakah aku harus mengakui bahwa aku seorang loser?! Ah, loser lagi-lagi aku mulai siap menampakan name tag loser dibelakang punggungku.
Mereka adalah dua orang yang tak pernah kutemui sejak umurku dua belas dan sekarang aku dua puluh satu hitung saja. aku bertemu, ingat! Hanya bertemu. Ketika lebaran tiba. Hanya lebaran. Dan sekarang aku berkepala dua tambah satu masih saja menjauh darinya. Bukan hanya menjauh aku sedang memilih jati diri siapakah aku? Apakah nantinya aku akan tetap tinggal sejauh ini dengan mereka? Sudahlah terlalu banyak pertanyaan.
Disetiap kampus ternama didunia, menurut perhitungan akademik aku diwajibkan untuk segera menggarap skripsi dan sering-sering bertatap muka dengan dua orang utusan terpercaya yang telah dinobatkan untuk mengantarku ke pintu aula yang sampai saat ini belum juga di cat. Tapi, ada satu hal yang membuatku tak ingin segera menjumpai mereka, ini hanya karena seseorang yang dulu pernah mengucapkan kata “Selamat ya, akhirnya kamu diterima di kampus impian” dengan berjabat tangan dan satu poto kenangan, tidak. Ada dua, tiga, empat, lima dan akhirnya satu album. Kami berdua bukanlah sepasang sepatu, melainkan hanyalah kaos kaki dan sepatu, mauku.
Aku kaos kaki dan kamu sepatu. Aku selalu membutuhkanmu karena takut kotor, sobek, basah dan sekedar menginjak tikotok pun aku tidak mau, aku sedang melindungi kaki jadi lindungilah aku. Tapi kamulah sepatu kita jarang bersama, benarkan? Aku butuh kamu, tapi kamu? Entahlah, aku hanya mengharapkan sebuah tepukan tangan yang merdu bukan sebelah tangan menepuk sampai pegal.
Kamu pernah menghubungiku dengan berbagai wacana, kamu pernah menanyakan tentang kuliahku tahukah aku sebahagia apa? Sebahagia Fatin yang memenangkan juara pertama dalam ajang mencari bakat. Betapa aku.
Hanya karena aku tidak mendengar kata semangat darimu, sampai hati aku menegcewakan kedua orang tuaku. Aku itu hierarki, karena kamu aku menjadi seperti itu aku berani memilih hal sepele untuk kebahagiaan seketika. Aku terlalu terjerumus kedalam teori Foucault tentang kegilaan pangkal dari perubahan. Aku telah menggila hanya menunggu kata semangat darimu saja, aku pikir katamu akan merubah segalanya untukku begitulah aku. Aku tidak seberuntung orang yang beruntung, begitu saja.
Disekitarku teman-teman sedang sibuk mengurusi ujian Comprehensive, Tahfidz dan revisi skripsi nya sedangkan aku hanya diam mengamati. Bagiku saat ini, semua bekerja sendiri, kata “Masuk Bareng Keluar Bareng” itu gak ada sedikitpun. Mungkin ini lahir karena akku terpuruk sekarang. Aku bukan mahasiswa aktif sana sini, aku bukan tim sukses partai ditahun ini, esok dan selamanya. Kegiatanku hanya menikmati Wifi gratis kampus yang baru bisa kunikmati saat ini setelah dua tahun singgah dikota Bandung ini.
Kenapa kamu ini tidak juga mengerti? Aku bahkan menulis rangkaian kata untuk membuatmu peka, walau tidak kukirim lewat manapun yang bisa menghubungkannya denganmu, semua hanya kujadikan status facebook. Kuakui selama kedekatan kita, dari gayamu membuat aku tidak peka tentang maksud katamu, ceritaku tentang pria yang mulai dekat denganku tapi sekarang dia sudah tiada. Bukankah itu yang ada dibenakmu tentangku ketika aku hilang mood walau sekedar mengangkat kabar darimu? Sekarang inginmu tercapai aku tidak jadi dengan pria yang umurnya sebaya dengan kakaku karena tuhan pun tahu kalau aku manusia pemilik rasa galau terbesar didunia.
Aku sempat berdo’a “Tuhan, jika dia memang bukan jodohku jangan biarkan aku terus bertegur sapa denganmu, jika aku tidak baik untukmu jauhkan segera mungkin, jika aku tidak pantas untukmu pertemukan kamu dengan wanita yang sangat baik tapi tidak berlebihan, wanita yang solehah dan turunan Tasik amin” mengapa aku malah mendoakanmu sedetail itu? Aku terlalu tahu tentangmu. Aku tidak ingin balasmu tahu segalanya tentangku tapi aku hanya ingin kamu tahu kalau aku butuh semangat darimu saja. apakah harus aku berjalan melangkah ke kota santri hanya untuk bertemu dengan seseorang yang hari-harinya dipenuhi dengan kata SPIRIT?. Ah, kamu menjengkelkan.
Lirik lagu Simple Plan - Perfect itu benar-benar menggugah kodratku sebagai bungsu teu jadi ini. Satu-satunya anak yang lebih sering diumbar kemampuannya padahal NOL. Pemiliki ayah yang selalu bangga dengan seuprit kebahagiaan yang ku hasilkan, tidak banyak prestasi tapi kadang Dewi Fortuna tidak ingin lepas perhatiannya padaku. Aku selalu ingin mengatakannya denganmu pada ayahku tentunya...
Hey dad look at me, think back and talk to me, that I grow up according to plan???
Tolong bantu aku mengatakannya. Tolonglah! Memang kamu bukan pria yang ayahku harapkan kedatangannya, tapi kamu yang kuharapkan sebelum aku mendengar protokoler memanggil namaku di aula yang saat ini sedang di cat, aula yang masih wangi cat krem itu, sebelum pak Rektor memindahkan tali toga sebelah kiri ke kanan tolong aku, bawa aku berlari, aku tidak butuh genggamanmu, aku tidak menyurhmu untuk berubah jadi seorang cheerleaders, tidak. Aku mau kamu whispering in my ear everytime. Hidup ini memang bukan kamu panutanku, kamu bukan tim pemandu wisata kehidupan, aku sudah punya dua pemandu dalam hidup ini, jadi yang kubutuhkan hanya semangatmu. Agar kita himpas. Aku selalu ada untukmu disaat terpurukmu walau tak kau pinta tapi kamu? Sekedar mengirmkan sms padaku dan bukan untukku tapi untuk bertitip salam pada seluruh jajaran keluarga besar alumni. Betapa aku sakit, Pren.
                                                            ***
Ciee, yang udah mau lulus.
Amin. Doakan.
Kalau yang lain lulus kapan?
Mana kutahu! Itu salah satunya. Kau menjengkelkan, aku bukan rektor yang menampung semua aktifitas mereka kan? Tolong liat aku disini sebentar saja. aku sedang gundah gulana saat ini. Masalah berdatangan tanpa hentinya, memang aku tidak pernah menceritakan tentangku yang sebenarnya tapi tolong sedikit saja, bantu aku mengumpulkan kekuatan tubuhku, menghapus rasa takutku, tolong!!! Rasa takut dan ingin mati kini kurasakan, rasa sesal dan..ah bodoh! Kebodohan aku bukan Foucault yang bodoh telah menciptakan jargon seperti itu kegilaan pangkal perubahan.
Aku tak lagi membalas pesan darinya setelah itu, yang kuharapkan tidak pernah sedikitpun membuatku bahagia, harapan itu buram, tidak datang dari naskah tuhan tapi dari kita sendiri mungkin nafsu saja, biasalah bisikan. Ternyata kabar darimu tak lagi berharga dimataku. Kamu hanya mengecewakanku. Malah melemahkanku, aku telah bersalah pada orang tua yang sering kutinggalkan, bahkan kudengar suaranya pun tidak pernah walau Assalamualaikum. Aku takut kecewaku segera datang. Ketika melihat mereka harus terkujur ditengah altar dengan samping coklat yang baru dibeli ditoko 24jam, kening yang dingin, dan aku harus berulang kali mengucapkan
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah...irji’ii ila rabbiki raadhiyatan mardiyyah..fadhkhulil fil’ ibadhii... Wadhkhulii jannatii..... 
Ditelinganya.......
Sebelum Rektor memindahkan tali toga dari kiri ke kanan.


Senin, 03 Maret 2014

BAGAIMANA JADINYA?

bagaimana jadinya ini kalau saja semua yang ku inginkan tidak sesuai?
memang! begitulah tuhan merancang, apkah itu artinya tuhan tidak ingin kita bahagia dengan semua keinginanku? bukan bukan seperti itu yang tuhan maksud...mungkin keinginanmu hanyalah bisikan gaib saja, akan seperti itu perkiraannya kan?
tuhan tau segalanya yang kita butuhkan.
tunggu! apakah yang kita butuhkan itu tidak berarti dengan keinginan sepertinya sama! beda tentunya sangat beda, lihat saja kebutuhan seorang wanita sebenarnya dengan keinginannya? beda kan?....

terimakasih

cinta tak harus memiliki, tak harus menyakiti, cintaku tak harus mati! -VidiAldiano-

itulah yang kukatakan setiap kali kau menceritakan tentang gadis itu, tentang gadis yang kau kagumi entah dari segi apanya. aku tahu dia cantik, baik, taat agama, tak pernah menggalau dan seorang pemuja pria yang satu banding dengannya. kamu tidak tahu atau tidak sadar atau mendengar setiap kata yang kukatakan? aku tidak pernah mengerti kamu sepenuhnya kalau aku tahu mungkin kamu tidak akan seperti ini padaku, bertingkah semaunya. datang dan pergi seenaknya saja. mungkin kamu tidak akan meninggalkan jejakmu selama ini. memberiku harapan-harapan palsu yang kupikir itu murni dari hati kecilmu.
bagaimana denganmu yang selalu percaya pada setiap kata yang kuucapkan?
bagaimana denganmu yang selalu yakin bahwa aku tahu kamu sedetailnya.
aku bukan ibumu! aku hanya perempuan yang sama seperti ibumu, menyayangimu sepenuh hatinya, mendarah-darah ketika rasa cemas mulai menggandrungi pikirannya. menahan tangisnya yang membendung selama kamu menyakiti perasaannya. tapi aku tidak tahu siapa kamu seperti ibumu.

apakah kamu tahu bagaimana kabarku? kapan aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja?
ingat? ah...aku lupa kamu tidak pernah mengingatku..oh bukan-bukan kamu selalu mengingatku mengingat namaku, mengingat tanggal ulang tahunku tapi tidak [ernah menanyakan kesehatanku.

terimakasih untuk segalanya, untuk tidak mencemaskanku yang tidak layak kau cemaskan seperti gadis itu.
kamu tidak perlu tahu ketika aku terdiagnosa cancer. kamu tidak perlu tahu bahwa hidupku kini sudah tidak ada harapannya lagi. seluruh tubuhku kini sudah milik dokter ahli bedah yang akan mengangkat jantungku yang masih utuh, yang kujaga walau sering kau biarkan sakit, hatiku yang kerap kali ku jaga agar diusia mudaku aku tak begitu sia-sia.
sudah diam saja, nikmati hidup kamu dengan mengirimkan kabar kecil bahwa kamu baik-baik saja dan teman-teman kita semuanya sukses.
begitupun aku, nyawaku telah siap dihadapan pintu surga. tinggal menunggu siapa yang akan membawaku diatas kendaraan terakhirku.
menunggu ayah agar sangat kuat mengikhlaskan putrinya, menunggu ibu tak mengkhawatirkan putri tak berdaya sepertiku, menunggu semuanya siap melepasku begitu saja.
selamat tinggal padamu yang telah menguatkan jantung dan hatiku dengan sapaan assalamualaikummu :)

go on, leave me breathless...

hidup ini begini amat....
21 tahun umurku, diumru yang entah muda atau sudah menua di tahun yang belum sempat menyandang gelar sarjana ini aku harus terkapar emah di atas sofa hijau ini. tergeletak pasrah tanpa siapapun. dibawah loteng yang sepi sangat sepi, aku hanya tertidur seperti ini. 
didepan layar laptop yang sejak pagi menyala. dengan alunan musik-musik galau yang membuatku semakin menderu-deruka isak tangis yang sempurna. 
rasa sakit yang entah darimana datangnya, rasa sakit menjelma dikehidupan ini. 
rumah ini kosong tapi...
dadaku terasa sesak...
tubuhku melilit
lemah 
tak berdaya.....
aku tak berharap tuhan segera mengutus malaikatnya untuk menghunus tubuhku dan mengambil paksa nyawaku, tapi aku ingin tuhan membelai lembut rambut yang baru saja kupotong pendek, sangat pendek tanpa bantuan salon ternama sehingga banyak sekali sela-sela pijakan dirambutku.

Minggu, 02 Maret 2014

PADAMU AYAH....



Ayah...
Adalah empat huruf yang sangat bermakna, walau kehilangan satu huruf masih sangat baik artinya. Sangat sempurna makna dan kenyataannya sangatlah seimbang. Ketika kehilangan huruf A hanya menjadi yah, yang artinya setuju, begitulah ayah selalu setuju dan mendukung disetiap langkahku. Kemudian kehilangan huruf H, maka menjadi aya yang berarti ada dalam bahasa sunda, jadi ayah selalu ada disetiap waktu. Pada intinya ayah selalu mendukung dan ada disetiap waktu untuk anaknya. Betapa sempurnanya ayah.
Ayahku bukanlah seorang Selebritis, Presiden, Menteri, Gubernur atau Walikota. Bukan juga pak camat, lurah atau ketua RT. Tapi ayahku hanyalah seorang ketua keluarga yang berat tanggungannya karena memiliki keluarga besar seperti anak-anaknya hehehe. Tidak seperti itu juga. Beliau harus menanggung beban keluarganya, seperti pamanku, bibiku, dan uwaku. Ayah selalu saja sabar menghadapi kelakuan mereka yang seringkali memperdaya kebaikannya, aku kadang khawatir dengan semua ini. Aku khawatir tidak kebagian warisan hehe. Tidak begitu, aku tak peduli apakah mereka akan menghabiskan semua harta ayah sampai tanahnya mungkin mereka makan untuk dijadikan kolak aku tak peduli. Yang terpenting mereka tak membunuh ayahku.
Ayah seorang yang terkenal tapi tidak berprofesi seperti bapak Susilo, pak Dede yusuf, pak Jokowi atau pak Wiryo. Entahlah kenapa ayah begitu terkenal dikalangan mereka. Kadang aku tak suka ketika ayah kedatangan banyak tamu, aku tidak suka ketika ayah lebih mementingkan pekerjaannya, aku selalu tidak suka ketika ayah sakit setelah pulang dari kantor yang letaknya di kota dan sangat jauh sekali dari rumah. Aku tidak begitu bangga ketika ayah mengerjakan banyak hal hanya untuk sepiring nasi dan sebongkah berlian, karena waktu dengan kami sangatlah minim. Tapi aku juga senang mungkin itu tanda sayang ayah untuk mamah, karena Ia tak mau melihat kami kelaparan, melihat kami sengsara, melihat kami hancur. Tapi...ah.
Aku dan ayah tak begitu dekat. Kami seperti seorang teman yang ketika bicara sepentingnya saja. Bahkan kami tak banyak bicara satu Sama lain. Ketika makan cukup makan saja. Ketika nonton televisi cukup nonton. Pagi hari ayah keluar dan berolahraga, pulang hanya memerintah ini dan itu. Menyalahkan ini itu, entah apa penyebabnya. Aku, kaka dan adik selalu memaklumi sikap ayah yang begitu galak. Tapi aku tetap sayang ayah.
Disekolah aku selalu berusaha menjadi yang terbaik agar mendapat sambutan hangat darinya. Tapi, hasilnya selalu Sama. Ketika aku duduk dibangku sekolah dasar, peringkatku sangat bagus. Karena ayah juga. Aku dilarang bermain ini itu, kesana kemari, setiap waktu harus belajar, apapun itu, menghafal ayat-ayat al-qur'an yang menurutnya sangat penting dan harus diingat ketika berdo'a setelah shalat dan dilantunkan ketika mulai mengaji. Disekolah aku mampu mengerjakan pelajaran kelas atas, tapi yang terjadi aku malah STRESS. Aku mencoba kabur agar tidak seperti itu, tapi tanpa ku sadari ayah mengakhiri semuanya. Mungkin Ia sadar atau Ia sedang sibuk dengan pekerjaannya dan selalu begitu.
Kemudian aku mulai memasuki sekolah menengah, tapi apa yang terjadi aku dikirimnya jauh dari rumah. Aku merasa diasingkan. Bahkan ketika mereka meninggalkanku sendiri, tak ada rasa sedih atau hambar atau kehilangan. Aku tak seperti yang lainnya menangis tersedu-sedu. Mungkin ini keridhaan yang mereka kirimkan untukku. Bukan karena mereka bosan mengurusiku, bukan karena mereka tak suka aku tinggal dirumah, bukan karena itu tapi. Mereka ingin anaknya menjadi anak yang terbaik di mata  allah dan umat manusia nantinya. Aku hanya percaya diri saja, walaupun aku tak pernah tahu maksud utama dan yang paling utama mereka tapi aku yakin mereka selalu menyajikan do'a yang terbaik untuk anak-anaknya.
Suatu hari, aku mendapati kesempatan mengikuti sebuah lomba pidato sepesantren, alhasil aku menjadi juaranya. Setelah pengumuman itu berlangsung aku dengan rasa haru menelpon kedua orang tuaku dengan suara bangga aku memberi tahu mereka. Tapi, apa yang terjadi? Tahukah? Jawaban yang keluar hanyalah kata OH !!! Apa?? OH? OH ? Hanya OH??. Aku lemah seketika, respon mereka berbeda dengan teman-temanku yang seketika bangga berteman denganku.
"Kamu hebat"
"Selamat yah"
"Ga nyangka, ternyata"
"Bakat terpendam"
"Ga SIA SIA"
Dan banyak lagi, karena biasanya aku hanya bisa bercanda, bergurau dengan segala guyonan ga jelas. Banyak sekali sobekan kertas melayang diatas meja dengan tulisan pena hitam tertata dan kalau diperhatikan ya itulah sebuah KRITIK. Mungkin jika ayahku tahu dia akan sedih, dia akan marah, dia akan kecewa, dia akan menyesal telah melahirkanku kedunia, maksudnya memproduksi sehingga menjadi AKU. Tapi itu hanya mungkin, kemungkinan, kemungkinan yang tak akan pernah ku harap menjadi nyata. Kemungkinan yang hanya terlintas satu kali dibenakku. Kemungkinan yang takan pernah terpikir oleh seluruh anak didunia. Itu hanya sebuah kemungkinan yang tak akan pernah terjadi dan kuharap begitu. Seketika kalimat itu terbesit, hanya kalimat itu, maka aku takan pernah percaya pada kalimat " Tak ada yang tak mungkin".
Ayah...
Dialah pria yang baru kutemui ketangguhannya, kesetiaannya, keyakinannya.ke ke ke ke lainnya yang membuat semua orang bangga menyebutnya AYAH didepan banyak orang. Dewasa ini, aku seringkali membuatnya kecewa, membuatnya menungguku. Mungkin aku telah menyiksa ayah. Mungkin aku mempermainkan ayah. Mungkin. mungkin. mungkin. Mungkin ini akan jadi benar, sekarang aku kembali menganggapnya hal yang benar. Aku selalu menyusahkannya, aku selalu bersimpangan dengan keinginan ayah. Ketika aku memilih satu tingkat serius ayah tak pernah begitu setuju tapi Ia akan selalu bersikap setuju dihadapanku. Aku menyukai sesuatu tapi ayah tak suka, aku memilih ini tapi ayah tak suka.
Aku seringkali berimajinasi hal-hal diluar kepala, mungkin karena ayah terlalu pintar dan akademis maka itulah yang terjadi. Otakku tak seperti ayah yang sangat pintar. Otakku hanya sebatas Pentium yang sulit diupgrade. Otakku ya otakku. Ayah selalu menjadi luar biasa, kadang kala aku cemas kenapa ayah tak mentransfer kepintarannya padaku? Apa ini salah ayah? Mungkin Ia akan seperti itu menjawabnya. Berarti salahku? Tidak juga. Ini hanya salah Hawa nafsuku yang tak pernah terkontrol beraturan.
Aku gadis paling boros sepanjang perjalanan hidup manusia, sepertinya. Sepintas aku merasa sesal terus menerus karena selalu menghabiskan uang ayah tapi Ia tak pernah mempermasalahkannya atau belum? Hehe. Semoga tidak. Tapi aku seharusnya sadar diri. Ketika pikiran ini terlintas aku mendapat lowongan pekerjaan kemudian aku mencobanya, Dan akhirnya aku ... GAGAL. Mencoba yang lainnya kemudian aku GAGAL. Satu waktu aku menceritakan kejadian saat aku ditawarkan ayah terkekeh dan melarangku dengan candanya. Akhirnya aku tahu mengapa aku selalu gagal gagal dan gagal ternyata itulah alasannya, tak ada ridha setetespun dari AYAH untuk pekerjaanku.
Lelah memang karena aku menjadi sering menyalahkan diriku, menyalahkan kebodohanku, menyalahkan ini dan itu. sebenarnya apakah ayah tahu apa yang ada dibenakku? Apakah ayah tahu apakah cita-citaku? Apakah ayah tahu detail?. Sedangkan berbincang, menyapa pun tak pernah. Mengirimkan SMS pun tak pernah. Menelponku apalagi. Sayangkah ayah padaku? Masih di anggapkah aku sebagai anak ayah (membuka kartu keluarga dan ternyata ada) hehe. Lalu kenapa ayah sebegitu tak pedulinya padaku? Yang ada bukanlah satu jawaban melainkan satu bantahan yang menendangku sampai terlempar mungkin PERTANYAAN MACAM APA ITU? BODOH!.
Aku mencintai ayah, benar aku mencintainya karena  Allah, Aku mencintainya dengan keikhlasan, karena beliau pun menyayangiku. Antara ayah dan anak itulah cinta yang tak terbayangkan besarnya, semua ini karena kami mencintai karena  Allah. Pernah suatu hari aku mengatakan bahwa aku mencintai ayah, tapi teman-temanku malah mencibir dan menertawakanku. Mereka bilang mungkin kamu akan mencintainya seperti seorang kekasih, menakutkan. Lihat di televisi, Koran semua memberitakan bahwa ayah menyakiti gadis perempuannya, ayah melakukannya. Sewaktu itu aku benar-benar takut, rasanya aku semakin jauh dengannya. Sejarak pun aku tak pernah, di rumah tak bersapa. Bagaimana jadinya ketika ayah dan anak bersikap seperti itu? Aku sendiri pun enggan membayangkannya.
Aku sangat merindukan ayah, sekarang jarakku benar-benar jauh dengannya. Doaku selalu lebih dekat padanya, doanya, ya, aku yakin doanya selalu mengiringku kemanapun aku berjalan dan berarah. Ayah selalu bersamaku, tidak tapi do'a ayah yang bersamaku. Ketika bersamanya inginku seperti yang lainnya, inginku memeluknya, inginku berbagi cerita antara satu sampai akhir perjalanan hidupku seumur ini. Aku ingin Ia tahu apa yang kurasakan. Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupanku, kebohongan yang menyelimutiku. Apakah ayah tahu setiap detik nafasku semua hanyalah bohong. Kedustaan, munafik, wanita bertopeng. Anak macam apa aku ini? Aku tak sepantasnya dibanggakan.
Dearest my lovely dady...
Babeh,,,itulah satu panggilan yang ingin kukatakan karena aku selalu merasa dekat denganmu, merasa bahwa aku memanglah anakmu, aku adalah putrimu. Panggilan special, bagiku itu! Tidak hanya pada kekasihku, padamu pun aku ingin memiliki satu hal yang special. Maaf aku terlalu berlebihan tapi inilah aku. Aku menggantinya karena permintaan umy, aku tak masalah namun sekejap aku ingin memanggilmu babeh lagi.
Itu hanyalah panggilan lumrah tapi tidak untukku, kaulah terindah. Taukah? Aku selalu takut memilih pria yang terbaik karena aku tahu kaulah terbaik, kau mampu menjadi seorang Imam untuk keluarga, kau sangatlah bijaksana, kau selalu menjadi yang terbaik dimana pun berada. Aku bangga menjadi putrimu tapi terkadang aku malu karena ayahku terlalu sempurna untuk memiliki putri semacamku. Tidak sepantasnya aku seperti ini. Sungguh memalukan hidupku.
Ayah, aku yakin kau selalu ingin yang terbaik untukku dan kakak adikku, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kami. Aku selalu merasa tak sanggup ketika kau mulai melemah. Terkadang aku ingin menangisi hidupku ini, aku selalu kecewa dengan ibu, ketika Ia menggumam akan keinginanmu yang banyak dan berubah-rubah. Aku selalu kecewa dengan tingkah ibu, tapi aku takkan sampai hati membencinya. Ayah tolong aku, biarkan aku mencintai kalian berdua.
Dengan cinta
adinda